Monday, 19 February 2018

Semburan terhadap Tanaman Padi



http://bajafoliar.com



PERENDAMAN BENIH

Benih padi direndam selama 24 jam dengan dosis 50 cc DIGROW Hijau + 15 liter air (secukupnya) + 20 kg benih padi

Air bekas rendaman digunakan siram lahan persemaian.





DI PERSEMAIAN

Saat padi berusia 10 HSS atau 3 hari sebelum dipindahtanamkan sembur dengan dosis 50 ml DIGROW Hijau per tangki 14 liter atau dengan dosis 3-4 cc / liter air.





DI SAWAH
Padi disemprot menggunakan DIGROW Hijau dengan dosis 50 cc per tangki 14 liter (atau 3-4 cc / liter air) pada usia 15,25, dan 35 HST





Saat padi mulai bunting disemprot menggunakan DIGROW merah dengan dosis 75 cc per tangki 14 liter (atau 5-6 cc per liter air) pada usia 45,55, dan 65 HST.

PERHATIAN:
  • Waktu semprot pagi hari jam 06.00 – 09.00 atau sore hari jam 16.00 – 18.00
  • semprot cukup ngabut tidak usah sampai basah kuyup
  • penggunaan pupuk kimia dikurangi 30-50% dan penggunaan pupuk kandang / kompos ditambahi
  • tidak usah menggunakan perekat dan tidak boleh dicampur pupuk organik cair merek lain
  • saat terjadi serangan hama atau penyakit dapat diaplikasikan bersamaan dengan pestisida



PUPUK Organik DIGROW teruji dan terbukti mampu meningkatkan produksi padi para petani di Subak Jagaraga, Desa Penyaringan, Kecamatan Mendoyo. Hasil panen mereka meningkat dua-kali lipat setelah memakai pupuk organik DI Grow. Hal itu dibuktikan saat dilakukan penghitungan hasil panen menggunakan ubinan di Subak Jagaraga, Selasa (6/11/2012) kemarin.

Penghitungan ubinan itu juga disaksikan penyuluh pertanian pada Dinas Pertanian Peternakan dan Perkebunan, Pemkab Jembrana, klian subak se-Jembrana, KTNA dan para petani subak setempat.
Klian Subak Jagaraga Putu Maryadi (43) mengatakan dari 245 hektar sawah di Subak Jagaraga, sudah 70 persen menggunakan pupuk DIGROW.

Para petani sudah merasakan hasil kenaikan produksi gabah. Hal itu juga terbukti dengan hasil penghitungan ubinan pada dua petak sawah di subak tersebut. Masing-masing memakai varietas padi yang sama, dengan sistem tanam legowo 21, jarak tanam 25×25 cm dan tanam benih langsung (tabela). Yang membedakan hanya penggunaan pupuk. Salah satunya memakai pupuk organik DIGROW.

Hasil kotor satu hektar sawah yang menggunakan DIGROW, mencapai 21 ton. Sehingga, setelah dipotong kadar air, hasil bersihnya mencapai 17,5 ton per hektar. Hasil kotor itu jauh lebih tinggi disbanding yang memakai pupuk kimia yakni hanya 13,4 ton per hektar. ”Pupuk DIGROW ini memang luar biasa, selain meningkatkan hasil, juga tahan dari serangan penyakit,” ujarnya.

Dari kalkulasi biaya, petani juga diuntungkan. Menurutnya, biaya sejak olah tanah hingga panen memakai DIGROW, sekitar Rp 10,3 juta per hektar. Dan, hasil bersih panen dengan asumsi harga gabah Rp 4.000/kg, mencapai Rp 60 juta lebih per hektar. Sementara yang hanya memakai pupuk kimia hasil bersihnya jauh lebih sedikit yakni sekitar Rp 35,6 juta.

Pengakuan serupa disampaikan anggota Subak Jagaraga Made Sudenia. Menurut Sudenia setelah menyemprot pupuk DIGROW, peningkatan produksi padi dirasakannya langsung.

Konsultan Pupuk DIGROW Pusat Ir. Suhendro Atmaja mengatakan dengan hasil ubinan kemarin, membuktikan menggunakan DIGROW tanpa tambahan biaya, tapi hasil lebih meningkat. Manfaat pupuk organik yang terbuat dari rumput laut dari jenis ascophylum nodosum (sejenis alga coklat) ini bisa mempercepat pertumbuhan padi dan menghemat biaya pupuk kimia serta meningkatkan hasil produksi minimal 20 persen. “Dari banyaknya bulir padi yang dihasilkan memakai pupuk DIGROW mencapai 402 bulir, hasil itu berlipat dari yang biasanya hanya berkisar 150-250 bulir,” ujarnya didampingi Distributor Pupuk Organik DIGROW Bali Hariyanto.

Kepala Dinas Pertanian, Peternakan dan Perkebunan, I Ketut Wiratma menyambut baik upaya yang dilakukan distributor pupuk DIGROW Jembrana yang membantu para petani di Jembrana meningkatkan hasil padi. (ad4)

Sumber: Bali Post

No comments:

Post a Comment