PERENDAMAN BENIH
Benih padi direndam selama 24 jam dengan dosis 50 cc DIGROW Hijau + 15 liter air (secukupnya) + 20 kg benih padi
Air bekas rendaman digunakan siram lahan persemaian.
DI PERSEMAIAN
Saat padi berusia 10 HSS atau 3 hari sebelum dipindahtanamkan sembur dengan dosis 50 ml DIGROW Hijau per tangki 14 liter atau dengan dosis 3-4 cc / liter air.
Padi disemprot menggunakan DIGROW Hijau dengan dosis 50 cc per tangki 14 liter (atau 3-4 cc / liter air) pada usia 15,25, dan 35 HST
PERHATIAN:
- Waktu semprot pagi hari jam 06.00 – 09.00 atau sore hari jam 16.00 – 18.00
- semprot cukup ngabut tidak usah sampai basah kuyup
- penggunaan pupuk kimia dikurangi 30-50% dan penggunaan pupuk kandang / kompos ditambahi
- tidak usah menggunakan perekat dan tidak boleh dicampur pupuk organik cair merek lain
- saat terjadi serangan hama atau penyakit dapat diaplikasikan bersamaan dengan pestisida
PUPUK Organik DIGROW teruji dan terbukti mampu meningkatkan produksi
padi para petani di Subak Jagaraga, Desa Penyaringan, Kecamatan Mendoyo.
Hasil panen mereka meningkat dua-kali lipat setelah memakai pupuk
organik DI Grow. Hal itu dibuktikan saat dilakukan penghitungan hasil
panen menggunakan ubinan di Subak Jagaraga, Selasa (6/11/2012) kemarin.
Penghitungan ubinan itu juga disaksikan penyuluh pertanian pada Dinas
Pertanian Peternakan dan Perkebunan, Pemkab Jembrana, klian subak
se-Jembrana, KTNA dan para petani subak setempat.
Klian Subak Jagaraga Putu Maryadi (43) mengatakan dari 245 hektar
sawah di Subak Jagaraga, sudah 70 persen menggunakan pupuk DIGROW.
Para petani sudah merasakan hasil kenaikan produksi gabah. Hal itu
juga terbukti dengan hasil penghitungan ubinan pada dua petak sawah di
subak tersebut. Masing-masing memakai varietas padi yang sama, dengan
sistem tanam legowo 21, jarak tanam 25×25 cm dan tanam benih langsung
(tabela). Yang membedakan hanya penggunaan pupuk. Salah satunya memakai
pupuk organik DIGROW.
Hasil kotor satu hektar sawah yang menggunakan DIGROW, mencapai 21
ton. Sehingga, setelah dipotong kadar air, hasil bersihnya mencapai 17,5
ton per hektar. Hasil kotor itu jauh lebih tinggi disbanding yang
memakai pupuk kimia yakni hanya 13,4 ton per hektar. ”Pupuk DIGROW ini
memang luar biasa, selain meningkatkan hasil, juga tahan dari serangan
penyakit,” ujarnya.
Dari kalkulasi biaya, petani juga diuntungkan. Menurutnya, biaya
sejak olah tanah hingga panen memakai DIGROW, sekitar Rp 10,3 juta per
hektar. Dan, hasil bersih panen dengan asumsi harga gabah Rp 4.000/kg,
mencapai Rp 60 juta lebih per hektar. Sementara yang hanya memakai pupuk
kimia hasil bersihnya jauh lebih sedikit yakni sekitar Rp 35,6 juta.
Pengakuan serupa disampaikan anggota Subak Jagaraga Made Sudenia.
Menurut Sudenia setelah menyemprot pupuk DIGROW, peningkatan produksi
padi dirasakannya langsung.
Konsultan Pupuk DIGROW Pusat Ir. Suhendro Atmaja mengatakan dengan
hasil ubinan kemarin, membuktikan menggunakan DIGROW tanpa tambahan
biaya, tapi hasil lebih meningkat. Manfaat pupuk organik yang terbuat
dari rumput laut dari jenis ascophylum nodosum (sejenis alga coklat) ini
bisa mempercepat pertumbuhan padi dan menghemat biaya pupuk kimia serta
meningkatkan hasil produksi minimal 20 persen. “Dari banyaknya bulir
padi yang dihasilkan memakai pupuk DIGROW mencapai 402 bulir, hasil itu
berlipat dari yang biasanya hanya berkisar 150-250 bulir,” ujarnya
didampingi Distributor Pupuk Organik DIGROW Bali Hariyanto.
Kepala Dinas Pertanian, Peternakan dan Perkebunan, I Ketut Wiratma
menyambut baik upaya yang dilakukan distributor pupuk DIGROW Jembrana
yang membantu para petani di Jembrana meningkatkan hasil padi. (ad4)
Sumber: Bali Post



No comments:
Post a Comment